Saturday, October 21, 2017

Dari Sondrean, Tampilan Busana Muslimah Harus Berwawasan Intelektual Dan Mandiri



Siaga|| Bicara tentang intelektual, berwawasan memang mempunyai kecenderungan hanya dimiliki kaum Adam, bagaimana hadirnya kaum Hawa tidak jarang termarginalkan. Jelas itu persepsi yang salah kaprah, justru sebalikanya kaum Hawa dalam  tanda kutip muslimah harus menjadi top leader sejalan dengan perkembangan zaman namun tanpa harus meninggalkan fitrahnya sebagai perempuan.

Wawasan inilah yang ada didalam benak Hj.Endah Khoirul Anam seorang muslimah pengasuh Ponpes Al Hidayah Sondrean, Desa Majasem, Kecamatan Kendal, Ngawi. Dengan perayaan Hari Santri Nasional (HSN) dirinya ingin mereflesikan peran muslimah secara total jangan hanya sebagai obyek tetapi harus menjadi subyek sebagai pelaku yang tampil secara dinamis disetiap moment kegiatan.

Memang sudah waktunya (Muslimah-red) dalam moment seperti hari santri bukan lagi menjadi obyek tetapi harus mampu tampil disetiap kancah kegiatan minimalnya ditingkat kabupaten. Maka pada kesempatan kali ini dari ponpes kami (Ponpes Al Hidayah Sondrean-red) mencoba menampilkan santriwati agar mereka mempunyai wawasan lebih mandiri dan berdaya saing terutama di bidang fashion, ungkap Hj.Endah Khoirul Anam, Sabtu (21/10).

Satu bukti ujarnya, dalam event Fashion Show Muslimah di Pendopo Wedya Graha Kabupaten Ngawi yang telah digelar tersebut setidaknya dari Ponpes Al Hidayah mengirimkan 7 santriwati untuk tampil diatas catwalk memamerkan busana muslimah yang lebih berkarakter sesuai corak bergaya etnik nusantara. Mengapa demikian, didalam diri muslimah beber Hj Endah ini harus mempunyai jiwa desainer top berlatar muslim sekaligus menjadi seorang entrepreneur yang handal.

Jelas Hj. Endah yang tidak lain istri dari Khoirul Anam Mukmin anggota DPRD Ngawi sekaligus Ketua DPC PKB Kabupaten Ngawi ini berbicara soal busana muslimah sesungguhnya. Menurutnya, tata cara berbusana yang diaktualisasikan melalui event fashion show muslimah yang telah digelar tersebut dan salah satu dewan juri adalah dirinya memang sudah sangat syari.

Gelaran busana muslimah tadi sudah sangat syari karena pakaian yang dikenakan para peserta identik dengan budaya lokal mengadopsi etnik nusantara mendasar dan menyesuaikan dari iklimnya meskipun tidak sama dengan Arab, urai Hj. Endah.

Pungkasnya, yang terpenting syari adalah subtansi tentang tata cara berbusana muslimah yang dijauhkan dari fitnah dan lebih berwibawa ketika pakaian itu dikenakan. Dan sesuai syariatnya setiap busana muslimah yang dipakai harus menutup semua aurat dalam diri seorang perempuan. Namun tetap mengedepankan tampilan yang modis, elegan dan sesuai dengan kentalnya budaya nusantara. (pr)


SHARE THIS

Author:

0 komentar: