Thursday, October 26, 2017

Demi Alasan Keamanan, Reka Ulang Pembunuhan Neny Cukup Di Mapolres Ngawi


SIAGA || NGAWI - Kasus penganiayaan hingga menyebabkan salah satu korbanya tewas di Dusun Kapungan, Desa Dawung, Kecamatan Jogorogo, Ngawi pada Selasa 23 September 2017 lalu, kini kasusnya dilakukan reka ulang atau rekonstruksi. Namun, dengan alasan keamanan pada diri pelaku Muh Mudiono pihak Satreskrim Polres Ngawi melakukan reka ulang tersebut secara tertutup di Mapolres Ngawi, Kamis (26/10).

Pelaksanaan rekonstruksi tidak mungkin dilakukan di TKP. Dengan mengingat dan menimbang terhadap keselamatan jiwa pelaku maka dilakukan di Mapolres Ngawi, terang Kasatreskrim Polres Ngawi AKP Maryoko.

Jelasnya, pelaksanaan rekonstruksi dilakukan untuk menemukan titik terang atas terjadinya penganiayaan yang menyebabkan Neny Agustin calon istri pelaku tewas demikian juga proses pembacokan terhadap tiga orang lainya di TKP. Selain itu secara khusus pelaksanaan rekonstruksi yang memakan waktu 1 jam untuk melengkapi berkas acara pemeriksaan. Sekaligus untuk mencocokkan dengan data-data yang diperoleh polisi agar setelah dilimpahkan ke kejaksaan tidak ditemukan kejanggalan.

Tadi ada 30 adegan dalam rekonstruksi itu dan hasilnya dapat diketahui jika peristiwa yang menyebabkan meninggalnya salah satu korban memang dilakukan oleh pelaku secara spontan. Itu terlihat dari senjata tajam yang digunakan pelaku memang diambil dari dalam rumah korban. Awalnya pelaku ini tujuanya baik ingin menikahi korban (Neny Agustin-red) karena ada kesalahpahaman maka terjadilah peristiwa itu, urai AKP Maryoko.

Sambungnya lagi, pada adegan ke-10 bisa diketahui Muh Mudiono dengan menggunakan golok pertama kali membacok korban Sumiyati ibunda Neny Agustin membuat sasaran pertamanya ini jatuh ke lantai. Disusul adegan ke-12 baru pelaku membacok calon istrinya Neny Agustin dari arah belakang tepat mengenai telinga kanan dan belakang telinga kanan sebanyak 2 kali diteruskan lagi membacok leher bagian belakang.

Rupanya keberingasan Muh Muhdiono terus berlanjut, meski Neny Agustin menggelepar jatuh ke lantai pelaku masih melakukan pembacokan lagi mengarah pada dagu kiri, lengan tangan kanan, punggung bagian kanan, betis kaki kiri dan berakhir pada betis kaki kanan. Amarah Muh Muhdiono belum redam, terbukti Sumiyem tetangga korban Neny ikut menjadi korban pembacokan demikian juga Pawiro Sikas kakek Neny.

Memang melihat dari kronologi pembacokan yang dilakukan Muh Mudiono terhadap para korban-korbanya terbilang cukup sadis. Meski demikian, apapun alasanya ulah pelaku menimbulkan satu nyawa melayang dan tiga orang lainya luka berat. Sehingga polisi tetap menjerat pelaku Muh Mudiono yang keseharianya sebagai pencari kroto dengan Pasal 351 ayat 2 dan 3 Subsider Pasal 338 KUHP dengan ancaman penjara maksimal 15 tahun. (pr)


SHARE THIS

Author:

0 komentar: