Sunday, November 19, 2017

Keluarga Korban Mencurigai Penyebab Kematian Panti Di Taiwan


Siaganews || NGAWI. Memang mengenaskan akhir hidup Panti perempuan berusia 32 tahun yang merupakan TKW asal Dusun Balong, RT 01/RW 07, Desa/Kecamatan Gerih, Ngawi yang mengadu nasib di Taiwan. Setelah sebelumnya sehat bugar, kini korban anak ketiga dari pasangan Senen-Jami dikabarkan meninggal dengan cara tak wajar jatuh dari lantai 11 apartemen milik majikanya di Taichung City-Taiwan sekitar pukul 07.00 waktu setempat pada Sabtu kemarin, (18/11).

Keluarga pun dibuat kaget bukan kepalang ketika perwakilan dari Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) dalam hal ini PT Barkahayu Safarindo beralamatkan di Desa Kuwon, Kecamatan Karas, Magetan mengabarkan kalau Panti meninggal dengan cara mengenaskan. Dan salah atu agen pemberangkatan tenaga kerja ke luar negeri ini bertanggungjawab atas proses pemulangan jenasah korban sampai dirumah duka.

Kabar itu baru disampaikan pihak PT kemarin siang tetapi sampai sekarang belum ada informasi lagi. Intinya mau bertanggungjawab memulangkan jenasah adik saya ini dari Taiwan, terang Kamino salah satu kakak korban, Minggu (19/11).

Selaku keluarga ia mengaku cukup shock dengan kabar buruk atas meninggalnya Panti. Apalagi penyebabnya jatuh dari gedung bertingkat. Membuat Kamino tidak serta merta percaya begitu saja mengenai penyebab meninggalnya korban. Ia menduga ada unsur lain yang melibatkan sang majikanya.
Kemungkinan itu tandasnya, jatuhnya Panti bisa saja didorong oleh majikanya saat kejadian.

Kalau jatuh sendiri dari tangga misalkan mungkin bisa berpegangan terhadap benda disekitarnya dan tidak mungkin langsung jatuh begitu saja ke bawah. Saya menduga didorong oleh majikanya itu. Memang kabarnya sebelum kejadian itu adik saya ini mau pindah majikan, kata Kamino.

Sebab, sebelum kejadian korban selalu mengeluh tentang sikap majikanya yang dianggap galak. Hal itu disampaikan korban pada saat kontak terakhir terhadap orang tuanya pada 5 November 2017. Selain itu Panti sering curhat melalui jejaring sosial facebook kepada tetangganya dirumah kalau si majikan tempatnya bekerja selalu mengekang bahkan cenderung mempunyai sikap suka mengancam. Untuk telepon ke keluarga dirumah saja dibatasi pada waktu malam berkisar mulai pukul 22.00 sampai pukul 23.00 waktu Taiwan.

Dari cerita sebelumnya Panti sempat mau ditusuk dengan sotel (alat penggorengan-red) oleh majikanya itu. Tetapi kabar itu seperti yang disampaikan korban jangan sampai ibunya dirumah mendengar dan mengetahui keberadaanya di Taiwan yang sebenarnya, bebernya.

Meski demikian sambung Kamino, pihak keluarga tidak akan menuntut tentang penyebab meninggalnya korban. Hanya saja dia berharap kepada pemerintah Indonesia maupun pihak PT Barkahayu Safarindo untuk memproses pemulangan jenasah secepatnya dan mengurus semua hak korban termasuk gaji selama ini. Kamino beranggapan, kalau toh penyebab meninggalnya korban dipersoalkan ia khawatir terhadap kondisi ibunya Jami akan lebih shock.
Selain itu dibenarkan, kalau korban baru bekerja di rumah majikanya sekitar 16 bulan. Sejak awal Panti mengaku tidak betah dan ingin pindah ke majikan lain.

Sayang dari agen yang ada di Taiwan disarankan untuk sementara bersabar sambil menunggu proses potong gaji selesai. Walaupun ada pemotongan gaji tandas Kamino, korban sudah beberapa kali mengirim uang sebagai biaya hidup putri semata wayangnya Hikmah Elia Najwa yang masih berusia 9 tahun yang diasuh Senen dan Jami dirumah.

Sekitar dua bulan lalu ia (korban-red) mau kirim uang senilai Rp 50 juta kerumah namun kenyataanya tidak pernah dikirim sampai peristiwa ini terjadi. Memang disebutkan akhir-akhir ini gajinya itu ditahan sama majikanya entah apa alasanya, pungkasnya. (pr)


SHARE THIS

Author:

0 komentar: