Saturday, November 25, 2017

Selayang Pandang Melihat Ngawi Dengan Ragamnya

Siaganews || NGAWI. Menjelang akhir tahun 2017 bagi Kabupaten Ngawi merupakan masa waktu yang bernilai histori bagi pariwisatanya melalui program Visit Ngawi Years 2017. 

Tidak salahnya menelisik kembali keberadaan Ngawi yang menjadi salah satu daerah etalasenya Jawa Timur dari arah barat. Kata Ngawi berasal dari kata awi, bahasa Sanskerta yang berarti bambu dan mendapat tambahan huruf sengau ng menjadi ngawi. Nama tersebut sepertinya merujuk dan menunjukkan bahwa Ngawi adalah suatu tempat di titik pertemuan Sungai Bengawan Solo dan Bengawan Madiun yang banyak ditumbuhi rumpun bambu.

Fakta Sejarah dan Hari Jadi Ngawi

Penelusuran Hari Jadi Ngawi dimulai tahun 1975, dengan dikeluarkannya SK Bupati KDH Tk.II Ngawi Nomor Sek. 13/7/Drh, tanggal 27 Oktober 1975 dan nomor Sek 13/3/Drh, tanggal 21 April 1976. Panitia Penelitian atau penelusuran di Ketua-i oleh DPRD Kabupaten Dati II Ngawi. Diantara kesulitannya dalam penelusuran terutama narasumber atau tokoh-tokoh masyarakat yang dapat dimintai keterangan. Kemudian Panitia melakukan penelitian lewat sejarah, peninggalan purbakala dan dokumen-dokumen kuno.

Tanggal 31 Agustus 1830, pernah ditetapkan sebagai Hari Jadi Ngawi dengan Surat Keputusan DPRD Kabupaten Dati II Ngawi tanggal 31 Maret 1978, Nomor Sek. 13/25/DPRD, yaitu berkaitan dengan ditetapkan Ngawi sebagai Order Regentschap oleh Pemerintah Hindia Belanda. Kemudian pada tanggal 30 September 1983, dengan Keputusan DPRD Kabupaten Dati II Ngawi Nomor 188.170/2/1983, ketetapan diatas diralat dengan alasan bahwa penetapan tanggal 31 Agustus 1830 sebagai Hari Jadi Ngawi dianggap kurang Nasionalis karena pada tanggal dan bulan tersebut justru dianggap memperingati kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda di Ngawi.

Menyadari hal tersebut tanggal 13 Desember 1983 dengan Surat Keputusan Bupati KDH Tk.II Ngawi nomor 143 tahun 1983, dibentuk Panitia/Tim Penelusuran dan penulisan Sejarah Ngawi diketuai Drs.Moestofa. Tanggal 14 Oktober Tim melaksanakan simposium di Sarangan Magetan membahas Hari Jadi Ngawi dengan narasumber MM.Soekarto K. Atmodjo dan MM. Soehardjo Hatmosoeprobo.

Hasil symposium tersebut menetapkan : (1).Menerima hasil penelusuran Soehardjo Hatmosoeprobo tentang Piagam Sultan Hamengku Buwono tanggal 2 Jumadil awal 1756 Aj bahwa pada tanggal 10 Nopember 1828 M wilayah Ngawi ditetapkan sebagai daerah Narawita (pelungguh) Bupati Wedono Monco Negoro Wetan. Peristiwa tersebut merupakan bagian dari perjalanan Sejarah Ngawi pada zaman kekuasaan Sultan Hamengku Buwono; (2).Menerima hasil penelitian MM.Soekarto K.Atmodjo tentang Prasasti Canggu tahun 1280 Saka pada masa pemerintahan Majapahit di bawah Raja Hayam Wuruk, menetapkan Ngawi yang berada ditepi Bengawan Solo dan Bengawan Madiun sebagai Desa Penyeberangan atau Nambangan (Naditira pradesa) dan Daerah Swatantra pada tanggal 7 Juli 1358 M.

Berdasar hasil Symposium tersebut maka pada tanggal 31 Desember 1986, DPRD Kabupaten Dati Tk.II Ngawi melalui Surat Keputusan Nomor : 188.70/34/1986 menyetujui tentang penetapan Hari Jadi Ngawi pada tanggal 7 Juli 1358 M. Kemudian ditetapkan dengan Surat Keputusan Bupati KDH Tk. II Ngawi No. 04 Tahun 1987 pada tanggal 14 Januari 1987.

Tidak menutup kemungkinan ada temuan-temuan baru terkait sejarah Ngawi. Jika ada temuan prasasti yang umurnya lebih tua dari prasasti Canggu tentu dapat dijadikan dasar sebagai hari jadi.

Letak Wilayah & Geografis

Kabupaten Ngawi terletak di Provinsi Jawa Timur berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah. Di bagian barat berbatasan dengan Kabupaten Sragen, Barat daya dengan Kabupaten Karanganyar, Barat Laut dengan Kabupaten Grobogan dan Bagian Utara berbatasan dengan Kabupaten Blora (Jawa Tengah). Di bagian Timur laut berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro, Timur dan Tenggara Kabupaten Madiun serta Kabupaten Magetan di bagian selatan.

Luas wilayah Kabupaten Ngawi adalah 1.298,58 km2, dan sekitar 506,6 km2 (+40%) berupa lahan sawah.Topografi dataran tinggi dan tanah datar. Bagian Barat Daya merupakan dataran tinggi meliputi 4 (empat) kecamatan yaitu  Kendal, Jogorogo, Ngrambe, dan Sine yang terletak di lereng Gunung Lawu. Bagian utara adalah perbukitan, bagian dari Pegunungan Kendeng. Bagian Tengggara merupakan tanah datar. Wilayah Ngawi terbelah dan titik pertemuan 2 (dua) sungai besar yaitu Bengawan Solo yang ber-hulu mulai dari Wonogiri, Sukoharjo, Surakarta/Solo, Karanganyar, Sragen dan Bengawan Madiun yang ber-hulu mulai dari Ponorogo, Madiun serta Magetan.

Sirkulasi Transportasi 

Kabupaten Ngawi adalah gerbang utama jalur tengah Provinsi Jawa Timur. Dilintasi jalur transportasi umum Surabaya-Madiun-Ngawi-Sragen-Solo-Jogjakarta-Semarang serta Blora/Cepu- Bojonegoro-Ngawi-Magetan-Karanganyar. Dilintasi jalur kereta api Surabaya-Madiun-Ngawi-Solo-Jogjakarta-Bandung/Jakarta dan terdapat 4 (empat) stasiun yaitu di Geneng, Paron, Kedunggalar, dan Walikukun. Dilintasi akses Tol Trans Jawa yang membelah wilayah Kabupaten Ngawi  dan kedepan akan mempermudah akses transportasi Jakarta-Semarang-Solo-Ngawi-Kertosono-Surabaya dan direncanakan hingga ke Banyuwangi.

Objek dan Potensi Wisata

Situs Pra-Sejarah/Purbakala/Arkeologi : Museum Trinil terdapat fosil Pithecanthropus erectus (kera berjalan tegak) serta fosil Flora dan Fauna lainnya. Lokasinya 15 Km arah Barat dari Kota Ngawi di Desa Kawu, Kec. Kedunggalar.

Situs Peninggalan Hindu-Budha : Arca Ganesha di Dukuh Pendem Desa Pucangan. Arca Nandi (Wahana/Kendaraan/rinding animal Dewa Siwa) di Halaman SMP Ngrambe di Kec.Ngrambe. Batu Gilang, di Desa Tulakan Kecamatan Sine. Batu Gilang, di Desa Ploso Kecamatan Kendal. Arca Ganesha & Arca Banteng, di Dusun Reco Banteng, Desa Wonorejo, di Kec. Kedunggalar.  Lingga Yoni, Petilasan Keraton Wirotho di Desa Tanjungsari, Kec.Jogorogo.

Prasasti & Buku Sejarah : Negara Jagaraga, dalam buku sejarah Dutch East India Company karya François Valentijn (17 April 16661727) menyebut Daerah Jagaraga (het landschap Jagaraga) dengan kotanya bernama Jagaraga (de staad Jagaraga). Disebut dalam Serat Pararaton (tahun1613M). Prasasti tembaga Waringin Pitu yang diketemukan di Desa Suradakan, Kabupaten Trenggalek. Prasasti tembaga Waringin Pitu dikeluarkan oleh Raja Widjayaparakramawardhana (Dyah Kerta Wijaya) pada tahun 1369 Saka atau 22 November 1474 M, menyebutkan tentang penguasa di Jagaraga (paduka Bhattara ring Jagaraga) bernama Wijayandudewi sebagai nama penobatan (nama raja bhiseka) atau Wijayaduhita sebagai nama kecil (Garbhapra Sutinama), seorang puteri yang mengaku keturunan Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana) pendiri Kerajaan Majapahit.

Prasasti ini juga memuji ratu Jagaraga dengan deretan kalimat (sansekerta) yang indah. Menurut terjemahan Mr.Moh.Yamin sebagai berikut : Perintah Sang Parbu diiringi pula oleh Seri Paduka Batara Jagaraga. #Nan bertingkah laku lemah lembut gemulai dan utama sesuai dengan kesetiaan kepada suaminya. #Nan dibersihkan kesadaran yang utama dan tidak bercacat, yang kaki tangannya dihiasi perhiasan utama, yaitu tingkah laku penuh kebajikan. #Nan berhati sanubari sesuai dengan kenang-kenangan yang tidak putus-putusnya kepada suami. Wilayah Negara Jagaraga meliputi bagian barat Bengawan Madiun dan selatan Bengawan Solo (kali semanggi).

Prasasti tembaga Waringin Pitu juga menyebut Negara Matahun, perkiraan lokasi di Desa Tawun wilayahnya ditimur Bengawan Madiun & Bengawan Solo. Raja Matahun bernama Dyah Samara Wijaya yang bergelar Wijayaparakrama, tetapi menurut Prasasti Kusmala (batu tulis dari Kandangan, Pare Kediri) ber-angka tahun 1272 Saka atau 1350 M, yang menjadi Raja Matahun (Paduka Bhatara Matahun) adalah Sriwijayarajasa Nantawikrama Tunggadewa, yang dikatakan telah berhasil membuat tanggul kokoh kuat dan indah (Rawuhan atita durgga mahalip), sehingga menyebabkan kegembiraan semua penduduk.

Hutan Spiritual : Alas Srigati/Alas Ketonggo, petilasan persinggahan Prabu Brawijaya V Raja Majapahit (tempat pelepasan jubah, mahkota, dan semua benda pusaka) sebelum naik ke Puncak Gunung lawu (hargo dalem) kemudian Moksa(lepas atau kebebasan dari ikatan duniawi dan dari putaran reinkarnasi atau Punarbawa kehidupan). Terdapat Pesanggrahan Agung Srigati, Palenggahan Agung Brawijaya, Pundhen Watu Dhakon, Pundhen Tugu Mas, Umbul Jambe, Pundhen Siti Hinggil, Kali Tempur Sedalem, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sendang Mintowiji, Kori Gapit, Punden Krepyak Syeh Dombo atau Goa Sido Bagus, Sendang Suro. Lokasinya 20 Km arah barat daya dari Kota Ngawi di Desa Babadan Kecamatan Paron.

Petilasan Cerita Rakyat : Joko Tarup dan Sendang Tujuh Bidadari di Desa Widodaren Kec.Gerih. Setelah dewasa bergelar Ki Ageng Tarub adalah tokoh yang dianggap sebagai leluhur dinasti Mataram, dinasti yang menguasai politik tanah Jawa - sebagian atau seluruhnya - sejak abad ke-17 hingga sekarang. Joko Budug (R.Haryo Bansal) dan Putri Layonsari di Gunung Liliran Desa Tulakan, Kec.Sine.

Ziarah Makam : Makam 5 Wali, Syekh Maulana Muhammad Al-Misri, Syekh Maulana Sahid Al-Mukti, Syekh Maulana Sahid Al-Bakir, Syekh Maulana Al-Ngalawi, dan Syekh Maulana Ahmad Muhammad. Konon adalah pasukan dari Mesir yang didatangkan oleh Sunan Kalijaga untuk menghalangi Pangeran Udara yang ingin membuat keonaran di Kerajaan Majapahit yang dipimpin Prabu Brawijaya, berada di tepi sungai Dusun Kedungrejo I, Desa Guyung, Kec.Gerih. Makam Pejuang Diponegoro, KH. Muhammad Nursalim, (17 Agustus 1592) di dalam Benteng Van den Bosh, Kel.Pelem, Kec.Ngawi. Makam Bupati Ngawi, RM Tumenggung Poerwodiprodjo (Bupati 1887-1902) di Kauman Masjid Agung Ngawi. Patih Pringgo Koesoemo di Desa Ngawi Purba, Kec.Ngawi. Raden Patih Ronggolelono dan Putri Cempo di Jabal Kadas, Desa Hargomulyo Kec.Ngrambe. Raden Adipati Kertonegoro (Bupati : 1834-1837) di Dusun Blimbing, Desa Sine, Kec.Sine.

Sejarah Pra-Kemerdekaan Republik Indonesia : Benteng Van Den Bosch dibangun Belanda dipertemuan Bengawan Solo dan Madiun sebagai strategi Benteng Steelsel untuk mempersempit ruang pergerakan Pangeran Diponegoro dalam perang gerilya. Lokasi di timur laut Kota Ngawi masuk Kelurahan Pelem, Kec.Ngawi.

Sejarah Pasca-Kemerdekaan Republik Indonesia : Monumen Soerjo dibangun tahun 1975, merupakan bukti sejarah Kekejaman Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI), diresmikan MayJend TNI-AD Witarmin, di jalan raya Ngawi-Solo Km 19, Desa Pelanglor di Kec.Kedunggalar.

Rumah Pahlawan : K.R.T Radjiman Wedyodiningrat di Dsn Dirgo, Desa Walikukun, Kec.Widodaren.

Air Terjun : Air Terjun Teleng Seloondo Desa Ngrayudan dan Air terjun Srambang Desa Giri Mulyo di Kec.Jogorogo. Air Terjun Pengantin dan Air Terjun Suwono di Desa Hargomulyo Kec.Ngrambe dan Air Terjun-Sumber Air Kamulyan Watu Jonggol Desa Pandansari di Kecamatan Sine.

Kolam Pemandian : Sendang Tawun, Desa Tawun, Kec.Kasreman. Tirtonirmolo Waterpark, Desa Tempuran, Kec.Paron. Selondo Desa Ngrayudan Kec.Jogorogo.

Hargo Dumilah Desa Setono Kec.Ngrambe. Sumberlanang Jamus Desa Girikerto dan Sendang Tirto Aji Desa Tulakan, Kec.Sine.

Waduk/Bendungan : Waduk Sangiran Desa Sumber Bening dan Waduk Pondok Desa Gandong di Kec.Bringin. Waduk Kedungbendo Desa Gunungsari Kec.Kareman.

Perkebunan : Kebun Teh Jamus di Desa Girikerto dan Kebun Karet PTP Nusantara XII Tretes Desa Jagir di Kecamatan Sine.

Kuliner & Makanan Khas :

Makanan Khas Asli kota Ngawi adalah Tepo Tahu (Pertama kali di buat oleh Bp Palio), kemudian Wedang Cemue, karena rasanya yang enak banyak tempat lain mengklaim cemue berasal dari daerahnya, tapi Cemue adalah benar-benar Asli kota Ngawi, Sate ayam Ngawi juga mempunyai rasa yang berbeda dengan sate ayam daerah lain.

Selain itu makanan ringan semacam Kripik tempe, ledre, dan Geti banyak terdapat di Ngawi, Nasi pecel Ngawi juga memiliki rasa yang khas berbeda dengan nasi pecel di kota lain.

Kerajinan : Batik Khas Ngawi, industri rumah tangga yang sedang berkembang di dua Kecamatan yaitu di Desa Munggut Kecamatan Padas dan Sidomulyo, Desa Banyubiru Kecamatan Widodaren. Batik Ngawi merupakan batik tulis, dengan motif khas Ngawi, yaitu padi, bambu dan manusia purba.

Kesenian : Tari Orek-Orek, Tarian dengan gerak dinamis pria dan wanita berpasangan. Menggambarkan muda-mudi masyarakat desa yang sehabis kerja berat gotong royong, melakukan tarian gembira ria untuk melepaskan lelah. Tari dapat dilakukan oleh sepasang muda-mudi atau beberapa pasang secara masal. Tatarias dan kostum meriah dan menarik sehingga menggambarkan keadaan muda-mudi desa yang tangkas dan dinamis.

Tari Penthul Melikan, Tari ini berasal dari Desa Melikan Tempuran Kecamatan Paron, diciptakan pada tahun 1952 oleh Bapak Munajah, dimaksudkan untuk menghibur masyarakat Desa pada upacara hari-hari besar. Sebagai rasa syukur dan ungkapan gembira masyarakat desa yang telah berhasil membangun sebuah jembatan, masyarakat sepakat untuk membuat suatu tontonan/hiburan yang menarik dan lucu. Sesuai dengan keadaan masyarakat pada waktu itu yang serba mistik, mempunyai keyakinan dan kepercayaan tentang kemampuan indra keenam yang memungkinkan seseorang berkomunikasi dengan masa lampau.

Bentuk tarian yang berfungsi sebagai media hiburan dan media pendidikan.

Para pemain mengenakan topeng terbuat dari kayu, melambangkan watak manusia yang berbeda-beda tetapi bersatu dalam kerja. Diiringi dengan gending jawa yang sedikit mendapat pengaruh reog ponorogo. Gerak tarian diarahkan sebagai lambang menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan mengajak manusia untuk hidup bersatu demi terwujudnya suasana aman dan damai.

Tari Bedoyo Srigati, adalah tarian sakral yang biasanya menjadi tarian upacara adat pada waktu Ganti Langse di obyek wisata spiritual Pesanggrahan Srigati .

Tarian Ini ditarikan oleh paling sedikit 10 penari yang semua harus masih gadis. Saat ini Tari Budoyo Srigati juga biasa ditampilkan pada saat ada jamuan tamu yang berkunjung di Ngawi. Ditarikan oleh para gadis cantik dengan pakaian tradisional yang indah dan gerak yang lembut, Budoyo Srigati sangat menarik untuk ditonton.

Kesenian Gaplik, Kesenian Gaplik berasal dari Desa Kendung Kecamatan Kwadungan Kabupaten Ngawi, keseniaan ini mempunyai maksud dan tujuan mengusir bala (mala petaka) yang melanda desa. Nama Gaplik diambil dari nama orang yang telah menciptakan dan mengembangkan kesenian tersebut.

Kesenian Gaplik dilaksanakan tiap tahun sekali, pada saat dilakukan bersih desa didesa yang bersangkutan, yaitu masa sehabis panen, didahului dengan upacara dimakam, dilanjutkan pentas kesenian Gaplik pada malam harinya, di halaman rumah Kepala Desa. Merupakan pagelaran berbentuk arena terbuka, antara pemain dan penonton saling berdekatan sehingga menimbulkan komunikasi langsung dan lancar antara pemain dan penonton, berdialog sambil berdiri.

Wayang krucil adalah kesenian khas Ngawi, Jawa Timur dari bahan kulit dan berukuran kecil sehingga lebih sering disebut dengan Wayang Krucil. Wayang ini dalam perkembangannya menggunakan bahan kayu pipih (dua dimensi) yang kemudian dikenal sebagai Wayang Klithik.

Cerita yang dipakai dalam wayang krucil umumnya mengambil dari zaman Panji Kudalaleyan di Pajajaran hingga zaman Prabu Brawijaya di Majapahit. Namun, tidak menutup kemungkinan wayang krucil memakai cerita wayang purwa dan wayang menak, bahkan dari babad tanah jawa sekalipun. Gamelan yang dipergunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang ini amat sederhana, berlaras slendro dan berirama playon bangomati (srepegan). Dan ada kalanya wayang krucil menggunakan gendhing-gendhing besar. Selain itu ada Tari Kecetan dan Dongkrek.

Tradisi : Upacara Adat Tawun (Keduk Beji), di Desa Tawun Kecamatan Kasreman, yang terkenal dengan Sendang Tawun. Dilaksanakan tiap tahun sekali, hari selasa kliwon setelah panen, sehabis gugurnya daun jati. Merupakan upacara bersih Desa, dengan membersihkan Sendang Tawun dari berbagai macam kotoran, Lumpur dan sampah sehingga air menjadi bening kembali. Dipimpin oleh dua juru selam yang berpakaian sepasang penganten, yang didahului penyajian sesaji mengucapkan doa. Upacara adat ini terdiri dari serangkaian berbagai kegiatan diiringi gending- gending Jawa (Karawitan).

Bukan saja untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa, sekaligus mengenang masa kehidupan dan peranan Ki Ageng Tawun beserta keluarganya. Methil menyambut panen padi, pelaksanaan tradisi ini ada 2 versi, yaitu proses pelaksanaan upacara bancaan tradisional di sawah dan pelaksanaan upacara bancaan sudah modern di rumah. Nilai-nilai dalam tradisi ini ada 4 macam nilai yaitu nilai historis, nilai religi, nilai sosial, dan nilai budaya. Namun, modernisasi telah berdampak terhadap tata cara serta lokasi pelaksanaan upacara bancaan.

Sarana Pendidikan

Diwilayah Kabupaten Ngawi terdapat 653 lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) baik Taman Kanak-Kanak (TK) maupun Raudatul athfal (RA) terdiri dari 3 TK Negeri dan 513 TK Swasta serta 137 RA Swasta. Terdapat 665 Sekolah Dasar (SD/MI) yang terdiri dari 531 Negeri dan 134 Swasta. Terdapat 121 Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTs) yaitu 61 Negeri dan 60 Swasta. Dan ada 38 Sekolah Menengah Atas (SMA/MA) yaitu 14 Negeri dan 24 Swasta dan 39 SMK yaitu 11 Negeri dan 28 Swasta.

Terdapat 7 (tujuh) Perguruan Tinggi Swasta yaitu di Kecamatan Ngawi ada Universitas Soerjo Ngawi (Unsur), Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Ngawi. STKIP Modern Ngawi, Institut Agama Islam (IAI) Ngawi (dulu STAI), dan Akademi Keperawatan (Akper) di RSUD Dr. Soeroto Ngawi. Di Kecamatan Geneng ada STKIP PGRI Ngawi. Serta di Kecamatan Paron ada STIT Islamiyah Karya Pembangunan (KP) Ngawi.

Selain itu terdapat 150 Pondok Pesantren Nahdliyin serta Pondok Pesantren Modern Gontor Putri 1, 2 di Desa Sambirejo, Kecamatan Mantingan, dan Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 3 di Desa Karangbanyu, Kecamatan Widodaren.

Tokoh/Orang terkenal dari berbagai bidang yang asli kelahiran Ngawi

Umar Kayam, budayawan
Didik Nurhadi, seniman lukis
Dhalang Poer, seniman lokal
Sri Edi Swasono, ekonom
Sri Bintang Pamungkas, politikus
Hermawan Sulistyo, pengamat politik
Ratih Sanggarwati, peragawati
Radjiman Wedyodiningrat,   pahlawan nasional, di Ngawi hingga akhir hayatnya
Koeshartoyo, pahlawan lokal yang sangat berjasa
Kirun, Topan, dan Leysus, Pelawak yang memiliki kaitan dengan Ngawi
Prijanto, wakil Gubernur Jakarta 2007-2012 juga berasal dari Ngawi
Everardus Snethlage, pemain sepak bola Belanda
Cees ten Cate, pemain sepak bola amatir Belanda
Justus Pieter de Veer, seniman Belanda
Sudigdo Adi, guru besar pada Unpad dan anggota DPR RI
Harjoko Sangganagara, kolumnis dan anggota DPRD Provinsi Jawa Barat
Suharmono Tjitrosoewarno, wartawan senior Pikiran Rakyat Bandung
Anwar Hudijono, wartawan Kompas
Widyo Nugroho Sulasdi, guru besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB
Herlinatiens, novelis
Otto Heinrich Julius Muller von Czernicki, perwira militer Belanda
Brianata Rosadhi, Atlet Jui Jitsu Internasional
Mohammad Sahrul Kurniawan, Mantan Timnas U-19 Indonesia

Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) Kabupaten Ngawi

SEKRETARIAT DAERAH
SEKRETARIAT DPRD
INSPEKTORAT
DINAS DAERAH
Dinas Pendidikan
Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga
Dinas Kesehatan
Dinas Sosial
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan KB
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu
Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah
Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Tenaga Kerja
Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik
Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman dan Pertanahan
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
Dinas Perhubungan
Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Dinas Pertanian, Perkebunan, Penyuluhan dan Peternakan
Dinas Pangan dan Perikanan
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Satuan Polisi Pamong Praja, Tramtib, Linmas dan Kebakaran

BADAN DAERAH

Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan
Badan Keuangan
Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan

UNIT PELAKSANA TEKNIS (UPT)

UPT Dinas Bidang Pendidikan (Satuan Pendidikan Daerah)
UPT Dinas Bidang Kesehatan RSUD-BLUD dan PUSKESMAS

KESBANGPOL

BPBD/Urusan Bencana
Wilayah Administratif, Terdapat 19 Kecamatan di Kabupaten Ngawi, yaitu :
Karangjati, Pangkur, Padas, Bringin, Kwadungan, Kasreman, Ngawi Kota, Geneng, Kendal, Gerih, Paron, Kedunggalar, Pitu, Karanganyar, Mantingan, Widodaren, Jogorogo, Ngrambe, Sine.

KELURAHAN

Terdapat 5 Kelurahan di Kabupaten Ngawi, yaitu Kelurahan Margomulyo, Karangtengah, Ketanggi, Pelem dan yang terbaru Beran. Semua ada di Kecamatan Ngawi.

DESA

Ada 212 Desa di wilayah Kabupaten Ngawi

Promosi Wisata :

Pemerintah Daerah Kabupaten Ngawi telah berupaya keras agar kondisi di segala bidang menjadi spektakuler, tetapi hasil Riset Markplus.Inc menyimpulkan bahwa Ngawi Now belum Spektakuler dan Ngawi Wow masih Cita-cita. 

Secara umum Ngawi memang belum seperti Malang, Batu, Lamongan, Banyuwangi, atau Magetan yang memiliki Sarangan dan mampu menarik wisatawan luar daerah.

Tetapi yang menggembirakan dari hasil riset tersebut adalah, adanya temuan bahwa potensi Ngawi sangat Spektakuler dan dapat diharapkan untuk Wow, meskipun tidak mudah tetapi bukan mustahil. Hasil riset tersebut sangat penting, karena itulah yang disebut pendekatan holistik yang kemudian menjadi dasar penyusunan RKPD agar cita-cita Ngawi menjadi barometer Jawa Timur dapat terwujud.

Ditulis : Nur Wahyudi


Penyelaras akhir : D. Purwanto


SHARE THIS

Author:

0 komentar: