Thursday, December 14, 2017

Polwan Polres Ngawi, Hasilkan Sejuta Karya Dari Menulis

SiagaNews || Kalau bicara karier di korps Bhayangkara memang tidak terlalu mencolok pada diri salah satu polisi wanita (Polwan) yang keseharianya berdinas di Polres Ngawi di satuan fungsi Binmas ini. Sebut saja Dian Ambarwati dengan pangkat terakhir Aiptu sekarang ini lebih dikenal dengan sederet karya tulisnya. Mbak Dian demikian sapaan akrabnya ada sekilas cerita tentang dirinya yang patut untuk di simak.

Ia lahir di Jayapura saat ayahnya berdinas sebagai TNI-AD di sana, tepatnya 12 Oktober 1972 tentunya dengan zodiak Libra wow hebat bukan. Putra kedua dari empat bersaudara dengan seorang ayah bernama Untung Sukatno (alm) dan ibu Sugiarti. Perlu diketahui dari Mbak Dian ini hanya berhasil menamatkan pendidikanya di bangku SMA dan tidak melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi  menyusul keterbatasan biaya dari orang tuanya.

Justru dengan alasan inilah ia tidak minder dengan segala situasi maupun kondisi malah sebaliknya membuat ia semangat untuk mendapatkan pekerjaan demi meringankan beban hidup orang tuanya. Kariernya sebagai polisi dimulai dari tekadnya sewaktu dibangku kelas 3 SMAN 2 Ngawi.

Dengan modal nekat ia mendaftarkan diri ke Calon Bintara (Caba) Polri/Polwan. Ternyata dengan modal yang tulus inilah Mbak Dian dinyatakan lulus dan membuatnya berhak mengikuti pendidikan Sepolwan di Ciputat-Jakarta tahun 1991 dan lulus pendidikan Polwan 1992 yang disebut dengan angkatan XV (libels) dengan pangkat Bintara.

Kemudian terkait hobby menulis peremupuan bersuamikan Irawan Nata Prawira ini bukan tanpa alasan. Dimulai dari sering menulis dibuku diary. Kemudian merambah dunia maya pertama kalinya baru tahun 2009 melalui media sosial facebook.

Awalnya, hanya mengotak atik kata di layar monitor hanya untuk konsumsi pribadi yakni berisi himbauan kepada masyarakat dan pengguna jalan raya, mencari dan membaca berita, juga dimanfaatkan untuk saling melepas rindu pada teman-temanya yang jauh dari jangkauan netra.

Dari sering menulis di diary hingga dunia maya facebook itulah menjadi satu motivasi untuk menulis terus. Tentu tidak lepas dari tahun 2013 saat itu, terang Mbak Dian.

Ulasnya, tanpa disengaja tepatnya Mei 2013 ia menemukan suatu komunitas di facebook. Dari sinilah hobbynya mulai tersalurkan melalui Komunitas Bisa Menulis asuhan Isa Alamsyah. Saat berusaha memposting hasil karya tulis untuk pertama kalinya.

Mbak Dian mengaku dibantai habis-habisan oleh para sahabatnya di grup tersebut. Justru ia makin termotivasi sebab ia mulai menyadari kesalahan ketika alur cerita yang ditulis tidak nyambung, tata bahasa, EYD, diksi, pov dan istilah lain yang sungguh tidak dimengertinya.

Saat itu ia mengaku rendah diri dan malu, tetapi itu pun tidak berlangsung lama. Dan sebaliknya semua koreksi yang disampaikan relasinya menjadikan titik awal memahami dunia penulisan, yang bagus, menarik dan tidak kaku tentu bisa diterima oleh para pembaca.

Dengan niat Bismillah, pada bulan Juli 2013 anak buah dari AKP Didik Supriyanto selaku Kasat Binmas memberanikan diri mengajukan naskah cerpen untuk diikutkan dalam lomba penulisan cerpen/puisi tingkat nasional yang diadakan oleh Presidium Alumni IPM Asahan tahun 2013.

Meskipun tidak menyabet juara 1 tetapi karyanya masuk 10 besar yang dibukukan dari ribuan peserta. Sungguh tak menyangka, karya perdananya masuk dalam antologi Lebaran Untuk Ibu yang bisa dibaca oleh seluruh masyarakat pecinta cerpen maupun puisi di tanah air.

Seiring waktu, semakin memicu untuk bersemangat menulis karya-karya lainya yang lebih berbobot. Akhirnya berbagai perlombaan di dunia maya sering ia ikuti disela-sela pengabdianya sebagai seorang Polwan tanpa mengurangi waktu dinasnya.

Beberapa karyanya yang memenangi event terkumpul dalam beberapa antologi. Dan tulisan dari Mbak Dian ini banyak tertuang dalam bentuk cerpen, cernak, dongeng anak, serta puisi. Berikut karya tulisnya yang dibukukan dan diterbitkan mulai beredar diantaranya, Catatan Hati Pengantin (bersama Asma Nadia-2014), Lebaran Untuk Ibu (2013-cerpen, Azka), Meniti Pelangi (cerpen, Pena Indis-2014).

Tidak sebatas itu ada lagi Ensiklopedia penulis Indonesia (2014-FAM), Gado-Gado Cinta (2013-cerpen, AG Litera), Cinta dan Sujudku (2013-cerpen, AE Publishing), Safari Dongeng Anak (2013-cernak, Pustaka Jingga), Pelangi Desember (2014-cerpen, Penerbit Harfeey).

Kemudian ada Cinta Selaksa Makna (puisi-2013), Pelangi Untuk Ananda (cernak-2013), Puisi Untuk Negeri (puisi-2013), Kumpul Bocah (2015-cernak,Lovrinz publishing), Ibu Dalam Memoriku (2014-cerpen, Metakata), Phobia (puisi-2013), Sentuhan Langit (2014-cerpen), Bunga dan Cinta (2013-cerpen,Sastra), Kumcer Romantis (2017-cerpen), Jadilah Sesendok Gula (2014-cerpen, Asrifa).

Ditambah lagi dengan Antologi Puisi Wakil Rakyat (2013-puisi), Refleksi Kehidupan (2013-puisi), Ayah, Ibu Maafkan Aku (2013-cernak, AE Publishing) dan Hijab Cinta (2014, cerpen, Asrifa).

Dibalik semuanya itu kiprahnya di dunia maya ada pemerhati sehingga ada penerbit yang menuangkan profilnya dalam bentuk buku yaitu, Ensiklopedi Penulis Indonesia (2014) dan Aku Tak Menyerah (2015). Serta karyanya pernah dimuat dalam surat kabar Jawa Pos dan Koran Medan. 

Sambil berkelakar Mbak Dian mengatakan, saat ini ada satu antologi cerpen yang berkisah tentang laki-laki dan perempuan baying-bayang masih dalam proses terbit dari pihak penanggung jawab lomba. Kabar terakhir yang ia terima bakal diterbitkan pada tahun 2018 mendatang.

Seperti diketahui, dalam benaknya selalu terngiang pesan salah satu gurunya yang tidak lain Isa Alamsyah beliau ini suami dari idolanya Asma Nadia. Dan paling terkesan ulasnya, tidak lain tentang Satu Buku Sebelum Mati semakin membuat daya kreatifnya menulis digedor di benaknya Mbak Dian yang pernah bertugas di Polres Bondowoso ini.

Dengan daya upaya tersebut maka lahirlah buku solonya pada 2015 berjudul Dunia Maya Seorang Polwan. Dimana buku yang diterbitkan melalui self publishing produksi LovRinz mengupas tentang sepak terjang seorang Polwan dalam mendarma bhaktikan kepada masyarakat dengan pesan-pesan bermoral. Baik itu tentang etika berkendara di jalan raya, menggunakan media sosial yang lebih santun maupun cara mengantisipasi penipuan di dunia maya. (pr-sumber DN)


SHARE THIS

Author:

0 komentar: