Thursday, December 28, 2017

Tragedi Janda Miliarder, Pandangan Masyarakat Terhadap Tersangka Dan Korban

SiagaNews || Kisah kematian Sulasi yang dikenal sebagai orang kaya dengan label sosial sebagai tuan tanah demikian juga uang setumpuk memang menyisakan banyak pertanyaan. Demikian juga sekilas balik kehidupan para tersangka baik NHI maupun BM patut dilihat dari dua sisi yang berbeda. 
 
Menurut tetangganya, selama ini NHI yang bertempat tinggal di Dusun/Desa/Kecamatan Paron, Ngawi dikenal sebagai perempuan ulet, pekerja keras dan sebagai sosok yang akrab dengan lingkungan masyarakatnya. Beberapa waktu sebelum kejadian NHI sebagai ibu rumah tangga ini profesinya sebagai pedagang rujak petis cukup dikenal para konsumenya.

“Ia seperti ibu maupun warga lainya malahan sosial masyarakatnya sangat baik. Selain ramah ia memang tipe pekerja keras. Sebelum menekuni sebagai pedagang rujak petis ia bekerja di salah satu toko di pasar Paron itu,” terang Yusuf, Kamis (28/12).

Tandasnya, dengan kabar NHI terseret kasus pembunuhan dengan korban Sulasi dirinya merasa kaget dan tidak percaya. Apalagi kabar tersebut cukup mengagetkan mengingat sang eksekutornya NHI bukan tersangka lainya. Setahu Yusuf, didalam keluarganya NHI cukup harmonis selama menikah hampir 6-7 tahun lalu meskipun belum dikaruniai momongan. 

“Pas ada kabar itu setahu saya ia terlihat biasa tidak ada yang aneh dan masih seperti warga lainya. Makanya sangat kaget dan kurang percaya kalau melakukan perilaku seperti itu,” beber Yusuf. 

Penilaian yang sama juga berlaku pada diri BM meskipun hanya sebatas kenal dan tahu ia tidak terlalu yakin dengan aksinya yang menimbulkan nyawa seseorang melayang. BM lebih dikenal sebagai cowok suko humor dan selalu santai dalam bersikap dengan teman maupun warga sekitarnya.

Namun cukup berbeda dengan pandangan sosial masyarakat terhadap korban Sulasi. Seperti penuturan Farida sebagai tetangga terdekatnya di Perumahan Lawu Indah, Desa Jururejo, Kecamatan Ngawi Kota. Selama tinggal hampir tiga tahun di Perumahan Lawu Indah, korban dikenal sebagai wanita tertutup. 

Sehingga ia jarang melihat meskipun yang bersangkutan dirumah. Setahu Farida selama ini pintu pagar maupun rumahnya selalu dalam keadaan terkunci. Jika keluar rumah hanya sebatas dalam pagar misalkan membeli jajanan maupun lainya ke pedagang sayuran keliling.

“Setahu saya Ibu Sulasi orangnya sangat tertutup pokoknya tidak pernah mengikuti kegiatan di lingkungan perumahan sini. Tetapi kalau ditarik iuran dirinya selalu bayar bahkan minta berapa selalu dikasih,” kata Farida. 

Seperti diberitakan sebelumnya, tragedi kematian Sulasi si janda kaya berumur 53 tahun warga Dusun Jambe Kidul, Desa Ngale, Kecamatan Paron, Ngawi memang menyita perhatian publik. Menyusul jasad korban saat ditemukan di Sungai Blawong, Desa Gading, Kecamatan Balerejo, Madiun kondisinya sangat mengenaskan mulut di lakban demikian juga kedua tangan maupun kakinya terikat. 

Akan tetapi kematian Sulasi yang cukup misterius ini langsung diungkap Polres Ngawi kurang dari sepekan pasca kejadian. Ada dua tersangka diamankan petugas yang diduga melakukan tindak pembunuhan tersebut. Masing-masing NHI perempuan berusia 28 tahun dan BM pria 20 tahun keduanya warga Desa/Kecamatan Paron, Ngawi. (pr)

SHARE THIS

Author:

0 komentar: