Sunday, January 28, 2018

Beda Koki Beda Rasa Spesial Ayam Panggang Khas Mbak Ambar Ngawi


SiagaNews || Sekarang ini hadirnya ayam panggang berbagai cita rasa seolah menjamur di semua daerah. Bahkan mereka pun bak kompetisi dalam menampilkan menu terbaik untuk menarik para penjaja kuliner.


Tapi apapun alasanya jelas beda dengan kehadiran ayam panggang dari Ngawi, Jawa Timur ini. Iya, sebut saja ayam panggang khas ‘Mbak Ambar’ lokasinya memang tidak terlalu ditempat ramai dan strategis tepatnya berada Dusun Pangkur, Desa Kartoharjo, Kecamatan Ngawi Kota atau tepatnya utara pasar hewan.


Dengan mengusung konsep tradisional warung lesehan, setiap pengunjung pasti dimanjakan lidahnya dengan rasa ayam panggang yang empuk, lezat dan gurih dengan berbagai rasa. Menarik bukan, apalagi tempatnya cocok banget untuk keluarga dan relasi. Maklum, tempatnya memang adem jauh dari bisingnya kendaraan bermotor.


Untuk para penikmat kuliner akan disuguhkan beberapa varian rasa ayam panggang mulai ayam panggang bumbu bawang, ayam panggang bumbu rujak, ayam lodhoh dan ayam panggang bumbu ingkung. Bagi pengunjung tidak perlu khawatir dengan harga, ayam panggang Mbak Ambar sangat terjangkau dengan isi dompet.


Kata Mbak Ambar yang mempunyai nama lengkap Ambar Kuntari yang notabene seorang PNS dilingkup kesekretariatan DPRD Kabupaten Ngawi, sejak warung lesehanya buka 8 bulan lalu kini sudah kebanjiran penikmat kuliner dari berbagai kalangan.


Tidak terkecuali lagi Bupati Ngawi Budi Sulistyono yang lebih kental disapa Mbah Kung ini. Terang Mbak Ambar, dalam setiap pekan sampai tiga kali menikmati sajian khas kulinernya. Paling favorit sesuai pesanan Mbah Kung adalah ayam lodhoh.


“Kalau Mbah Kung yang paling disukai setiap kali pesan ayam lodhoh itu. Kadang beliaunya sering mampir langsung ke warung sini sama stafnya gitu. Kalau Mas Ony (Ony Anwar-Wabup Ngawi) beda lagi low, ia lebih suka ayam panggang bumbu bawangnya. Kata beliau mak nyuss pokoknya,” terang Mbak Ambar.


Jelasnya, untuk menu tambahan juga tersaji mulai dari urap sampai ‘oblok-oblok’ berbahan dasar jantung pisang tentu rasanya yang manteb dan gurih. Terlebih disajikan didalam wadah kwali kecil yang terkesan mentradisional.


Ketika ditanya soal resep masakan yang bikin kesengsem para pengunjungnya, Mbak Ambar cuma pilih tersenyum kecil. Ia mengaku tidak mempunyai resep khusus dan sebaliknya biasa seperti pada umumnya.


Hanya saja Mbak Ambar dengan nada‘pede’ yang membedakan tidak lain sang koki atau juru masak. Bahan sama, resep sama, beda koki beda rasak. Meski demikian sekali lagi, harganya cukup terjangkau dengan daya beli masyarakat Ngawi dan sekitarnya.


Ayam Panggang Mbak Ambar Berawal Dari Asa


Awal warung lesehan Mbak Ambar sebenarnya bukan tanpa kisah, melainkan berangkat dari sebuah asa akan profesi atau pekerjaan dari sebelumnya. Dibalik ceritanya pun unik untuk disajikan, untuk menekuni sebuah warung lesehan apalagi menyajikan makanan siap saji ayam panggang berangkat dari pemikiran Danang Panji Anggoro tidak lain suami Mbak Ambar.


Ungkap Kang Penceng demikian panggilan akrab Danang Panji Anggoro, ketika mengawali berumah tangga kurang dari setahun lalu ia punya gagasan untuk berwiraswasta mandiri dengan membuka warung lesehan dengan menu ayam panggang.


Dengan modal terbilang ‘cupet’ sekitar Rp 50 juta Kang Penceng meyakinkan istri tercintanya Mbak Ambar untuk bareng menatap masa depan dari sisi lain yakni berbisnis kuliner. Iya lagi-lagi hanya bermodalkan optimisme akan sebuah karya.


“Kalau kisahnya agak lucu ya mas, dulu saya ini bergelut dengan dunia perbankan sudah lima tahun lamanya. Ada sisi-sisi kejenuhan dibalik profesi saya itu, lantas dengan modal optimis ingin beralih profesi akhirnya ingin berjualan kuliner,” terang Kang Penceng.


Dengan ketekunan dan ulednya tekad lambat laun idenya berbuah suatu kenyataan. Padahal jika ditelusuri ia berani berspekulasi sedari awal. Jauh hari sebelum terbilang sukses dan lancar membuka warung lesehan ayam panggang Kang Penceng memutuskan keluar dari pekerjaanya di perbankan.


“Sejak awal ketika saya punya ide ingin membuka warung ini (warung lesehan ayam panggang-red). Tapi dengan bekal yakin kalau ini bakal sukses ya saya berani keluar dari dunia perbankan itu,” bebernya.


Kang Penceng untuk sekarang ini mengaku penghasilan kotornya dari usaha tersebut terbilang lumayan. Waktu paling ramai pengunjung tandasnya setiap hari Sabtu dan Minggu. Dalam hari-hari tersebut paling tidak menghabiskan sekitar 90 sampai 100 ekor ayam kampung. Namun kalau hari biasa memang masih berkisar pada 50 sampai 60 ekor ayam kampung.


Dengan inkam pendapatan itu Kang Penceng sekarang ini sudah mampu memperkejakan 9 orang. Di setiap harinya ia membuka warung lesehan berlabel Ayam Panggang Mbak Ambar antara pukul 08.00 WIB – 20.00 WIB. Hanya saja soal paket pesanan belum bisa melayani jasa pengiriman/delivery tetapi bisa diambil langsung melalui kontak person via handphone 085 806 760 099 dan 082 301 319 117. (*pr/en)


SHARE THIS

Author:

0 komentar: