Friday, January 26, 2018

Ini Alasan Kapolres Ngawi Kenapa Polisi Harus ‘Ngaji’ Lagi


SiagaNews || Setelah seiring sekian waktu berjalanya kebijakan ‘nyentrik’ khas Kapolres Ngawi AKBP MB.Pranatal Hutajulu tentang pemberantasan buta baca Alquran, ternyata bukan sekedar inovasi tanpa alasan dan dasar. Meskipun terobosan itu boleh dibilang satu-satunya yang dikeluarkan oleh seorang Kapolres di internal Mabes Polri selama ini dan menjadi pilot project perdana.

Berikut ada beberapa alasan khusus yang disampaikan Kapolres Ngawi AKBP MB.Pranatal Hutajulu saat di wawancarai wartawan Siaga Indonesia wilayah Ngawi Didik Purwanto terkait kebijakanya tersebut.

*Mengapa anda sebagai Kapolres Ngawi begitu getol menerapkan kebijakan untuk ngaji lagi bagi polisi yang muslim khusus mereka yang belum bisa baca Alquran?

-Bahwasanya ketika saya ditugaskan menjadi Kasubid Paminal Bidang Propam di Polda Jawa Timur itu setiap menangani kasus polisi nakal atau melanggar tidak lepas dari masalah yang harus ditangani. Pembinaan anggota ini tidak lepas dari kompetensi yang harus dimiliki. Didalam kompetensi seperti diketahui bersama itu ada skill (keahlian-red), knowledge (pengetahuan-red) dan etitut atau sikap serta perilaku.

-Perlu diketahui skill dan knowledge itu bisa dibina dan didapat dari sekolah-sekolah formal di internal kepolisian termasuk pendidikan kejuruan (dikjur-red). Sedangkan etitut ini hanya bisa didapat dari pembinaan akhlak melalui kegiatan-kegiatan keagamaan.

*Apa hubunganya etitut dengan tugas kepolisian?

-Menurut Daniel Goleman seorang psikoanalisis asal Massachusetts, Amerika Serikat pernah melakukan penelitian yang dibukukan lewat buku sensasionalnya Emotional Intelegence bahwa yang menentukan keberhasilan seorang manusia dalam hidupnya itu 80 persen ditentukan oleh etitut atau kecerdasan dari emosi spiritual yang biasa dikenal dengan SQ (Spritual Quotient) dan kecerdasan intelektualnya itu tidak kurang 20 persen.

-Berati kecerdasaan etitut atau SQ itu kan sangat menentukan suatu keberhasilan. Nah, pengembangan SQ itu melalui pembinaan keagamaan.

*Terus jika dikaitkan dengan SQ apa hubungan horizontal dengan anggota kepolisian dalam hal ini tentang pemberantasan buta baca Alquran, apa yang melatarbelakangi?
-Memang kenyataanya banyak anggota yang muslim di jajaran Polres sama sekali belum mampu menguasai baca tulis Alquran dan ini harus kita ungkapkan dan mereka harus di edukasi agar bisa mengaji.

*Kalau mereka (anggota-red) sudah mampu menguasai baca tulis Alquran apa menjadi jaminan terhadap perilakunya?

-Dengan dia bisa mengaji tentunya dia banyak mendapatkan pemahaman tentang agama, keimananya semakin kuat dan jelasnya lagi akan menjauhi suatu tindak pelanggaran dan melayani masyarakat dengan baik.

-Hal itu bisa dicapai setelah mereka mengamalkan kebaikan-kebaikan didalam Alquran itu sendiri.

Sementara itu Daniel Goleman mengatakan bahwa koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial serta lingkungannya.

Lebih lanjut Goleman mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa.

Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati. Daniel Goleman (Emotional Intelligence) menyebutkan bahwa kecerdasan emosi jauh lebih berperan ketimbang IQ atau keahlian dalam menentukan siapa yang akan jadi bintang dalam suatu pekerjaan.

Kemudian dengan langkah inovatif tersebut hingga sekarang ini seluruh anggota di internal Polres Ngawi maupun di jajaran Polsek terus digalakan gerakan pemberantasan buta baca Alquran. Tentu melibatkan para ustad baik dari lingkungan sekitar maupun ustad dari internal kepolisian itu sendiri.

Dan gerakan ini tersentral bagi anggota kepolisian yang muslim namun belum begitu memahami dalam penguasaan baca tulis Alquran sesuai tajwidnya. Dan Kapolres Ngawi AKBP MB.Pranatal Hutajulu sangat berharap melalui inovasinya akan menjadi pilot project dalam skala nasional. (*pr)

SHARE THIS

Author:

0 komentar: