Tuesday, January 9, 2018

Ogah ‘Nunut’ SMP Bersaing Fasilitas Menuju UNBK Mandiri



SiagaNews || Pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Ngawi selama ini sering terkendala masalah ketersediaan fasilitas komputer dan penyimpanan data atau server. Tidak mau di cap ‘nunut’ ke lembaga sekolah lain membuat SMPN 2 Paron memutar otak berkeinginan melaksanakan UNBK mandiri meskipun kondisi fasilitasnya masih terbatas.


“Insyallah untuk tahun 2018 pelaksanaan UNBK di sekolahan saya ini tidak lagi numpang ke sekolah lain seperti tahun-tahun sebelumnya. Dipastikan akan menggelar UNBK mandiri dan fasilitasnya sudah terpenuhi demikian juga servernya,” terang Endang Budi W Kepala SMPN 2 Paron, Selasa (09/01).


Kata Endang, di sekolahnya sekarang ini tersedia 61 unit komputer berikut 3 server yang kondisinya ready untuk melaksanakan UNBK yang bakal digelar sekitar Mei 2018 mendatang. Dari puluhan perangkat komputer tersebut memang sebagian dari pengadaan komite sekolah yang jumlahnya mencapai 20 unit. Sedangkan dari bantuan pusat ada 21 unit dan sisanya 20 unit dari laboratorium bahasa.


“Dihitung dari jumlah perangkat komputer sudah mencukupi untuk melaksanakan UNBK mandiri. Dimana di SMPN 2 Paron sini ada 163 siswa dan pelaksanaanya nanti ada tiga gelombang,” cetus Endang Budi W.


Ia membenarkan, menuju UNBK semua perangkat komputer maupun siswa sudah mulai melakukan simulasi termasuk memastikan kondisi server terkoneksi dengan baik. Bahkan untuk mengantisipasi perangkat komputer macet pada pelaksanaan nanti disekolahnya sudah ada 6 unit komputer sebagai cadangan.


“Kalau bicara kendala pada siswa memang ada mengingat pada proses pembelajaran K-13 ini kan tidak ada lagi pendidikan tentang ilmu komputer (TIK-red). Tetapi tetap kita masukan ke sistim intrakurikuler selama dua jam pelajaran dan itu sudah cukup bagi anak-anak,” bebernya.


Jelas Endang,  pihaknya sedikit menyorot tentang materi atau pelajaran TIK dihapus pasca diberlakukan sistem pendidikan mengadopsi K-13. Padahal penghapusan TIK tersebut akan berdampak negative dalam penggunaan software komputer bagi sekolah-sekolah yang seharusnya dipelajari oleh anak didik.


Seperti diketahui sebelumnya, dalam mata pelajaran TIK kurikulum 2004 (KBK-red) dan 2006 (KTSP-red) yang berkaitan dengan materi perangkat lunak (software) komputer diajarkan berbagai jenis perangkat lunak, mulai dari sistem operasi, software aplikasi dan tidak menyebutkan nama aplikasi yang digunakan, apakah properietary atau FOSS. Selain itu juga diajarkan tentang etika dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dan undang-undang HAKI. (pr)


SHARE THIS

Author:

0 komentar: