Saturday, March 31, 2018

Jelang Konfercab, Kader NU Ngawi Pengen Situasi Adem


SiagaNews || Menjelang konferensi cabang (Konfercab) ke-IX NU Ngawi 2018 yang digelar pada 15 April 2018 mendatang semua kader penggerak Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah Ngawi berkomitmen untuk menyukseskan agenda lima tahunan tersebut. Kepastian itu disampaikan melalui rapat koordinasi dan evaluasi progress report kader penggerak NU Ngawi di RM Maimun Jalan Soekarno-Hatta Ngawi, Jum’at kemarin, (30/03).


“Kami semua bersepakat jangan sampai ada fiksi-fiksi antar kader NU di Ngawi ini dari pra, pelaksanaan hingga pasca konfercab. Tentunya yang kami utamakan tidak lain secara bersama menjaga marwah NU dan mengesampingkan urusan pribadi,” terang Ridwan Syahroni Ketua Panitia Konfercab ke-IX NU Ngawi 2018, Jum’at (30/03).


Ia pun berpendapat menjelang pemilihan Ketua PCNU Kabupaten Ngawi masa khidmat 2018-2023 ada dua hal yang bisa dijadikan pembelajaran bagi warga nahdliyin Ngawi. Pertama, adalah sistem pemilihan Rois dengan metode ahlul halli wal-aqdi (AHWA) yang beranggotakan 5 kyai yang mendapatkan suara terbanyak dari usulan masing-masing jajaran syuriah di Pengurus Ranting NU, MWC NU dan PCNU Kabupaten Ngawi.

Anggota AHWA akan melakukan musyawarah untuk menyepakati salah satu dari mereka untuk menjadi Rois atau menunjuk diluar anggota AHWA. Metode tersebut mengadopsi konsep yang pernah dijalankan pada era Khalifah Umar bin Khattab, beliau memilih beberapa wakil dari kaum muslimin untuk melaksanakan musyawarah dan memutuskan kebijakan yang harus ditaati oleh anggota ahlul halli wal-aqdi dan kaum muslimin.

Pada saat itu keputusannya adalah memilih sahabat Ustman bin Affan sebagai pengganti sahabat Umar bin Khattab dalam melanjutkan perjuangan Islam. Dan kedua, seluruh dana yang digunakan untuk melaksanakan Konfercab ke-IX NU Ngawi tersebut merupakan hasil iuran dari PCNU bersama Banom, Lembaga, MWC NU, Panitia pelaksana Konfercab dan dari para Kader NU Ngawi.

Hal ini menarik karena warga nahdliyin Ngawi sudah menunjukkan eksistensinya sebagai organisasi yang mandiri dan berdaya. Sikap tersebut juga bisa menepis anggapan bahwa NU Ngawi terkontaminasi oleh istilah kepentingan politik dagang sapi. Karena pelaksanaannya mendekati momentum politik yang mana sangat dikhawatirkan para pelaku kepentingan dari berbagai parpol akan ikut andil dan memanfaatkan Konfercab ke-IX NU Ngawi kali ini. Dan sangat wajar dicurigai keberadaannya karena NU memang memiliki massa yang banyak.

“Untuk itu kami meminta semua calon ketua PCNU Ngawi ini untuk memahami aturan-aturan yang ada. Jangan sampai momentum konfercab sebagai ajang perpecahan justru sebaliknya memperkuat tali silaturahmi,” beber Ridwan Syahroni.

Untuk itu ia meminta kepada siapapun juga yang mendapatkan amanah sebagai Ketua PCNU Ngawi hasil Konfercab ke-IX Ngawi agar secepatnya memprioritaskan kaderisasi PKPNU (Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama) yang didalamnya ada 9 perintah kader. Dan salah satu diantaranya adalah menyukseskan program koin NU yang mulai dilaunching pada 2017 lalu. (pr)


SHARE THIS

Author:

0 komentar: