Wednesday, March 21, 2018

Jembatan Overpass Ngawi-Jogorogo Tanpa Jalur Pedestrian Pejalan Kaki Terancam

SiagaNews || Jembatan overpass yang membentang diatas jalan tol jalur Ngawi-Jogorogo masuk Desa Jururejo, Kecamatan Ngawi Kota, Ngawi perlu dikaji ulang. Pasalnya, jembatan selebar kurang lebih 7 meter dengan panjang sekitar 100 meter tersebut tanpa dilengkapi jalur pedestrian yang peruntukanya bagi pejalan kaki.

Jika tidak segera ditindaklanjuti keberadaan jembatan overpass itu sangat membahayakan bagi pejalan kaki yang melintas. Padahal keberadaan jalur pedestrian atau trotoar sangat vital disuatu jembatan sebagai ruang khusus untuk pejalan kaki yang berfungsi sebagai sarana pencapaian yang dapat melindungi pejalan kaki dari bahaya yang datang dari kendaraan bermotor.

“Keberadaan overpass itu seharusnya dipikir lagi menyangkut hak para pejalan kaki. Lihat sendiri tidak ada trotoarnya atau pedestrian tentu sangat membahayakan para pejalan kaki. Kalau bisa segera dibenahi dengan menyediakan pedestrianya,” ungkap Nur Wahyudi salah satu warga Kota Ngawi, Rabu (21/03).

Jelas dia, selain tidak adanya jalur pedestrian keberadaan jembatan overpass di jalur Ngawi-Jogorogo juga kurang lebar jika dikaitkan dengan kondisi jalan saat ini. Mengingat Jalan Raya Ngawi-Jogorogo merupakan salah satu akses lintas antar kecamatan bahkan kabupaten sekaligus sebagai jalur alternative Ngawi-Madiun.

“Kalau dilihat dari bawah memang jembatan itu (overpass-red) seolah lebar tapi setelah melihat view sebenarnya kurang memadahi atau kurang lebar untuk sekelas jalur itu. Mengingat volume kendaraan maupun frekuensinya pada momen tertentu sangat padat,” ulas Nur Wahyudi.

Dari sisi lain kalau dikaitkan dengan rencana Pemkab Ngawi bersama legislative merubah nama Stasiun Paron menjadi Ngawi keberadaan jembatan overpass sangat berpengaruh. Menyusul jembatan overpass yang hampir rampung pekerjaanya itu sebagai salah satu akses jalan menuju Stasiun Paron.

"Memang ada satu keterkaitan antara overpass dengan rencana perubahan nama stasiun. Kalau saja memang deal ganti nama untuk stasiun itu lambat laun kendaraan yang melintas menjadi padat sedangkan overpass iya tetap seperti itu,” beber Nur Wahyudi.

Hingga berita ini diturunkan Komisi IV DPRD Ngawi yang membidangi sarana insfrastruktur belum bisa dikonfirmasi tentang sikapnya kedepan mengenai jembatan overpass di Desa Jururejo itu. Tentunya sangat dimaklumi, setelah semua anggota Komisi IV DPRD Ngawi melakukan kegiatan inspeksi mendadak (sidak) ke jalan terdampak pembangunan jalan tol Ngawi-Solo maupun Ngawi-Kertosono. (pr)

SHARE THIS

Author:

0 komentar: