Monday, July 2, 2018

Diganti Wajah Gading Menjuntai Tugu Kartonyono Di Gepok

SiagaNews || Tugu Kartonyono yang berada tepat ditengah antara perempatan Jalan Ahmad Yani, PB Sudirman, Basuki Rahmad dan Yos Sudarso sekarang ini mulai dibongkar, Sabtu, (29/06). Hadi Suroso Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya (DPU BMCK) Ngawi mengatakan, pembongkaran tugu yang berusia 34 tahun tersebut sebagai awal penggantian wajah dari tugu itu sendiri yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

"Iya mulai dibongkar akan diganti lagi dengan wajah baru yakni bentuk gading menjuntai," terang Hadi Suroso via phone, Sabtu, (29/06).

Tandasnya, Tugu Kartonyono bentuk baru itu nantinya berupa gading gajah dengan posisi menjuntai keatas berlatar manusia purba yang ditopang dengan tujuh trap. Model baru ini tentunya mendasar dari karya besar Triyono seorang arsitektur asli Ngawi yang sudah mempersembahkan desain prototipnya demi keindahan dan tata kota kelahiranya.

Sementara itu Jarot Kusumo Yudo staf Tata Bangunan dan Tata Ruang (Tabataru) DPUPR Ngawi mengatakan desain Triyono keluar sebagai pemenang polling dari 5 karya arsitek lainya.

“Jumlahnya yang mengirim desain itu sekitar 28 gambar dari para arsitek. Namun kita ambil 5 besar dan ternyata desain Mas Triyono inilah yang terpakai nantinya sesuai hasil polling,” terang Jarot panggilan akrabnya, Kamis (24/08).

Desain gading gajah menjuntai keatas versi Triyono sengaja membawa konsep yang sangat khas dan kental dengan keberadaan sejarah tentang Kabupaten Ngawi sendiri. Konsep gading yang menjuntai keatas filosofinya sebagai simbol rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan melambangkan sesuai visi Kabupaten Ngawi dimana Ngawi Sejahtera, Berakhlak Berbasis Pedesaan Sebagai Barometer Jawa Timur.

Sedangkan tujuh trap sebagai penopang gading gajah itu sendiri bermakna universal antara lain, menanggulangi kemiskinan secara terpadu dan berkelanjutan, meningkatkan pelayanan dasar bidang pendidikan dan kesehatan yang berkwalitas dan berdaya saing. Selain itu, meningkatkan kwalitas insfrastruktur sesuai daya dukung lingkungan dan fungsi ruang dan beberapa lagi makna sesuai jumlah trap yang ada.

Seperti diketahui Tugu Kartonyono dibangun sekitar tahun 1983 yang sebelumnya berada di pertigaan. Ketika jembatan Dungus dibangun menuju ke timur jalur Ngawi-Caruban maka tugu tersebut berubah total menjadi Perempatan Tugu Kartonyono.

Untuk nama Kartonyono sendiri bukan sekedar asal nama melainkan ada mendasar dari sebuah narasi tentang keberadaan rumah Bapak Kartonyono yang tidak lain seorang kepala desa (Kades) Margomulyo sebelum berubah menjadi kelurahan. Dan rumah tersebut sejalan dengan pembangunan Kota Ngawi terpaksa digusur agar diatas lahan itu bisa dibangun jalan menuju jembatan Dungus sebagai akses ke jalur Ngawi-Caruban sekarang ini. (pr)


SHARE THIS

Author:

0 komentar: