Tuesday, July 31, 2018

Disparpora Tetapkan Jadwal Ganti Langse Srigati

SiagaNews || Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Ngawi melalui Kasi Kebudayaan menetapkan jadwal ritual budaya Ganti Langse Palenggahan Agung Srigati di Alas Ketonggo masuk Desa Babadan, Kecamatan Paron, Ngawi. Sulistyono Kasi Kebudayaan Disparpora Ngawi saat dikonfirmasi menjelaskan, pihaknya memang sudah menjadwalkan susunan acara maupun waktu pelaksanaan ritual budaya yang digelar setahun sekali tersebut.

“Iya kemarin bersama kepala desa dan perangkat Desa Babadan menetapkan jadwal acara itu di Srigati. Pastinya kemasanya nanti akan lebih meriah dibanding tahun sebelumnya,” terang Sulistyono, Selasa, (31/07).

Menurutnya, jadwal ritual Ganti Langse bakal digelar pada Senin 24 September 2018 atau pada penanggalan Hijriyah bakal dilaksanakan pada Senin Pahing malam Selasa Pon tepatnya 15 Muharam 1439 Hijriyah. Acara tersebut bakal diawali dengan Kirab Langse Enggal (baru-red) disusul ruwatan seniman seniwati dan malamnya prosesi Ganti Langse pada Palenggahan Agung Srigati dan terakhir pagelaran wayang kulit.

Pada prosesi ini tandas Sulistyono, pendanaan semua acara yang berkaitan dengan Ganti Langse bersumber pada P-APBD Kabupaten Ngawi 2018 plus anggaran desa setempat (Desa Babadan-red) dan bantuan warga masyarakat. Tujuan lain atas sosialisasi ritual Ganti Langse langsung disuport Pemkab Ngawi adalah untuk melestarikan budaya tradisional sekaligus meningkatkan perekonomian warga sekitar Alas Ketonggo.

“Pada pagelaran tersebut nantinya juga diadakan kirab gunungan dan sedekah bumi. Dan didalam kirab gunungan itu seperti tahun kemarin bakal diarak oleh ratusan pendekar silat,” urai Sulistyono.

Seperti diketahui, ritual Ganti Langse atau ganti selambu berupa mori putih yang difungsikan sebagai penutup Palenggahan Agung Srigati di Alas Ketonggo sebagai tradisi tahunan setiap bulan Muharam/Suro. Satu ritual tradisi yang sarat magis tersebut digelar secara khidmat penuh penghayatan diawali dengan penyerahan kain selambu mori warna putih bersih sepanjang 15 meter.

Selambu mori itu diserahkan oleh sang juru kunci kepada tokoh masyarakat yang tahun lalu diwakili Dwi Rianto Jatmiko/Antok Ketua DPRD Kabupaten Ngawi didampingi para pejabat desa setempat. Prosesi penyerahan selambu mori sendiri diiringi sebuah Tari Srigati yang dilakukan 8 penari yang masih gadis/perawan agar tercipta tari yang indah, luwes dan anggun pada saat prosesi tradisi dilakukan.

Menyusul acara yang paling ditunggu-tunggu yakni Ganti Langse dilakukan oleh para tokoh masyarakat dalam hal ini para perangkat Desa Babadan kurang lebih selama 15 menit. Kemudian Langse/mori yang sudah diganti atau bekasnya diserahkan kembali kepada juru kunci untuk dibagikan kepada warga masyarakat yang membutuhkan.

Ritual selanjutnya berupa bancaan atau biasa dikenal dengan kalimat ‘Slametan’ merupakan persembahan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dipimpin pemangku adat setempat. Dalam slametan ini dihidangkan berbagai makanan dan jajanan pasar. Untuk makananya dimulai tumpeng, urap-urap, bubur sengkolo, bubur merah putih, serta aneka ragam polo pendem.

Sedangkan jajanan pasar ada tujuh jenis yang mewakili fiosofi sebuah harapan pitulungan atau pertolongan yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Urap-urap memiliki simbol membahur atau bersatu padu serta menjadi manusia yang bermanfaat antara satu dengan yang lain. (pr)


SHARE THIS

Author:

0 komentar: