Thursday, July 19, 2018

Ingat, Pemilu 2019 Strategi ‘Daba & Damis’ Bakal Rontok


SiagaNews || Pemilu 2019 satu peristiwa titik awal menuju ‘perubahan’ untuk lima tahun kedepan. Niscaya, momen pesta demokrasi tersebut bisa jadi sangat sakral dibalut intrik, fiksi dan saling sodok berebut kursi. Ini hanya sekedar mengingatkan kembali para calon legislative yang statusnya sekarang ini masih ‘bakal’ di meja KPU menyusul belum ada proses penetapan. 

Sekali lagi perlu diingat dan diwaspadai untuk strategi berebut suara dari sang empunya dalam hal ini rakyat sangat dimungkinkan harus dirubah.  Jika benar-benar ingin duduk di kursi dewan dan tidak sekedar sebagai caleg pelengkap. Mungkin, teknik atau strategi lama jiplakan Pemilu 2014 bakal berubah 180 derajat.

Apabila saat itu (Pemilu 2014) bukan naif lagi mungkin ada caleg menjanjikan dana bantuan (daba) sebagai bentuk dana miskin (damis) ke konstituen dengan maksud bisa memuluskan niatanya merebutkan kursi. Akan tetapi pesta demokrasi yang tinggal setahun lagi itu nanti setiap caleg khusus yang ditargetkan bukan ‘pupuk bawang’ harus sadar betul bahwa Pemilu 2019 ada sistim konversi penghitungan suara yang berbeda dari sebelumnya. Menyusul dari persoalan itu suara yang dibutuhkan lebih besar dan maksimal sebagai penentu perolehan kursi di wilayah dapil. 

Tentu dengan metode konversi suara tersebut akan membuka pintu bagi caleg untuk berkampanye totalitas ke rakyat. Disinilah harus ada strategi baru, jangan sampai isyu dan janji yang dibawa caleg ke akar rumput terlalu monoton yakni kembali ke atas tadi ‘Daba & Damis’. Kalau toh gaya lama masih diterapkan bisa jadi bakal rontok ditengah jalan. 

Mari kita simak seperti apa perbedaan Pemilu 2014 dengan Pemilu 2019. Pastinya ada perbedaaan yang signifikan dengan permberlakukan metode konversi suara "Sainte Lague Murni" di Pemilu Legislatif 2019 dibanding dengan metode kuota hare dengan patokan Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) yang dipakai pada Pemilu Legislatif 2014.

Berikut bedanya, dampak dari penerapan metode Sainte Lague pada penghitungan suara Pemilu 2019. Untuk partai baru bisa berpeluang tidak akan dapat jatah kursi satupun di setiap dapil kecuali naruh vote getter sekelas artis top atau tabur uang banyak. Partai yang tidak punya basis massa akan habis di dapil dan tidak dapat kursi. Metode Saint League murni ini sedikit mengarah ke the winner take all (pemenang akan meraih semua kursi).

Ini simulasinya, misalkan dalam Pemilu 2019 di Dapil X perolehan suara Partai I mendapat 220.000 suara, Partai 2 mendapat 100.000 suara, Partai 3 mendapat 30.000 sara dan Partai 4 mendapat 25.000 suara. Hitungan dengan metoda Kuota Hare, misalkan jatah 4 kursi dengan harga 1 kursi 200.000 suara. Jadi perolehan kursi, Partai X 1 kursi sisa suara 20.000, Partai 2 jelas 0 kursi sisa 100 suara, Partai 3 pasti 0 kursi sisa 30.000 suara dan Partai 4 jelas 0 kursi sisa suara 25.000. 

Nah karena masih ada sisa 3 kursi dikasi ke sisa kursi terbanyak yaitu Partai 2, Parta 3 dan Partai 4. Jadi Partai 1 (X) tadi mendapat 1 kursi disusul Partai 2, Partai 3 dan Partai 4 masing-masing mendapat 1 kursi. Padahal suaranya beda jauh, Partai 1, 2 kali suara partai 2, dan 7 kali suara partai 3, dan 9 kali suara Partai 4. Kalau ini diterapkan lagi pasti timbul satu pertanyaan ‘Tidak adil masak hasil suaranya beda jauh tetapi sama-sama mendapat satu kursi’.

Kemudian berlanjut pada metode Sainte Lague sistim konversi suara pada Pemilu 2019 mendatang. Dengan metode Sainte Lague murni. Pembaginya bukan kuota kursi melainkan perolehan suara dibagi 1,3,5,7 dan seterusnya untuk urutan masing-masing kursi.

Kursi pertama Partai X memperoleh 220.000 suara, Partai 2 ada 100.000 suara, Partai mendulang 30.000 suara dan Partai 4 meraup 25.000 suara. Jadi, kursi pertama 1 kursi untuk yang tertinggi pasti didapat Partai 1 (X) tadi. Disusul kursi ke 2 (Partai 1 : 220.000/3 = 73.333, Partai 2,  100.000, Partai 3,  30.000, Partai 4 25.000). Sehingga Partai 1,  1 kursi  karena tertinggi untuk perebutan kursi ke 2.

Kemudian berlanjut pada kursi ketiga (Partai 1 : 220.000/3 = 73.333, partai 2,  100.000/3 = 33.333, partai 3,  30.000, Partai 4,  25.000). Jadi 1 kursi untuk Partai 1 (X) lagi karena tertinggi 73.333. Untuk kursi keempat (Partai 1 : 220.000/5 = 44.000, Partai 2,  100.000/3 = 33.333, Partai 3,  30.000, Partai 4,  25.000). Jadi 1 kursi untuk Partai 1 (X) lagi karena tertinggi.

Mendasar sistim metode Sainte Lague tersebut hasil akhirnya adalah Partai 1 mendapat 3 kursi, Partai 2 memperoleh 1 kursi, Partai 3 dan Partai 4 tidak memperoleh kursi atau kosong. Jika melihat sistem terbarukan pada Pemilu 2019 jelas beda jauh dengan Pemilu 2014. Dengan metode Sainte Lagu murni maka keberadaan vote getter sangat berperan besar. 

Dengan adanya perubahan total ini, setiap caleg memang dituntut memahami persoalan sebenarnya yang dialami masyarakat selaku pemegang suara bukan sekedar pencitraan dengan tebar pesona janji sana sini. Caleg harus berpikir cerdas lagi dan peka terhadap situasi sosial di era millennial ini. (pr)

SHARE THIS

Author:

0 komentar: