Tuesday, July 3, 2018

Usai Di Jamas, Pusaka Khas Ngawi Diboyong Ke Pusat Pemerintahan Terdahulu


SiagaNews || Jamasan pusaka merupakan warisan budaya dari para leluhur yang harus dilestarikan keberadaanya tanpa mengenal waktu. Seperti yang terlihat di Pendopo Wedya Graha acara sakral tahunan berupa jamasan pusaka digelar oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngawi, Selasa, (03/06).

Acara ritual budaya jamasan pusaka ini meliputi dua buah tombak antara lain Kyai Singkir dan Kyai Songgolangit serta dua payung yakni Tunggul Wulung dan Tunggul Warono dilakukan setiap tahunya menjelang peringatan berdirinya Kabupaten Ngawi yang ke-660 yang atuh pada 7 Juli 2018 mendatang.

Ritual ini langsung dipimpin oleh Bupati Ngawi Budi Sulistyono dan diikuti oleh para Unsur Pimpinan Daerah (Unspinda) serta para staf dilingkungan Pemkab Ngawi dengan memakai pakaian adat kejawen yang berlangsung dengan khidmat. Jamasan pusaka dilakukan oleh sesepuh agung Ki Gunawan yang sebelumnya atau setiap tahunya dilakukan oleh Ki Suharno Ilham.

Satu persatu pusaka yang cukup memiliki filosofi ini disiram dengan beberapa rupa kembang dan sesaji lainya dengan diikuti dengan kalimat mantra. Sebelumnya pusaka milik Pemkab NgawiKabupaten ini diboyong dari plangkanya yang ada didalam Pendopo Wedya Graha dengan dikawal oleh lima sesepuh yang dipimpin oleh Ki Sugito yang merupakan Ketua Permadani Cabang Ngawi.

Suasana di Pendopo Wedya Graha makin bertambah sakral ketika lantunan gending pakurmatan tengah mengiringi jamasan pusaka khususnya Ketawang Ngawiyat dan Gending Boyong Basuki yang ditabuh oleh para pengrawit. Seusai jamasan, ke empat pusaka diboyong ke Ngawi Purba yang tidak lain awal mula pusat pemerintahan Kabupaten Ngawi era Kerajaaan Mataram.

 “Ritual jamasan pusaka tidak bisa dilepaskan dengan sejarah awal berdirinya Kabupaten Ngawi, dengan demikian ritual seperti yang kita lakukan sekarang ini keberadaanya harus dilestarikan supaya generasi penerus nantinya akan tahu makna yang terkandung didalamnya. Dan semua pusaka khas milik Kabupaten Ngawi ini akan diboyong ke Ngawi Purba pusat pemerintahan Ngawi pada awalnya,” terang Budi Sulistyono Bupati Ngawi.

Sebelumnya, rakaian dalam memperingati HUT Kabupaten Ngawi ke-660 Bupati Ngawi beserta wakilnya dan para staf melakukan ziarah ke makam leluhur. Antara lain makam Raden Tumenggung Poerwodiprojo yang ada di belakang Masjid Jamii Baiturrahman Ngawi, makam Patih Pringgo Koesoemo di Ngawi Purba, makam Raden Adipati Kertonegoro di gunung Sarean Kecamatan Sine dan di akhiri ke makam Raden Patih Ronggolono dan Putri Cempo di Desa Tawangrejo, Kecamatan Ngrambe. (pr)


SHARE THIS

Author:

0 komentar: