Friday, August 3, 2018

Siswanto Peringatkan Kades Jangan Main Manipulasi Dana Desa

SiagaNews || Keberadaan desa kini berubah 360 derajat dan menjadi primadona baru dalam khasanah pembangunan di Indonesia. Besarnya jumlah anggaran yang masuk ke desa memang luar biasa pasca diberlakukanya Undang-Undang Desa. Tidak urung membuat desa terus melangkah maju dalam pembangunan berbagai sektor, dalam tanda kutip jika anggaran desa yang disalurkan tersebut benar-benar direalisasikan dengan baik.

Tidak mau ada masalah dibelakang apalagi bersentuhan dengan hukum salah satu wakil rakyat yang duduk di DPRD Ngawi ini getol memperingatkan para pemangku desa yang berkompeten dengan uang rakyat tersebut. Jangan sampai ‘sembrono’ mengelola anggaran yang semestinya untuk kepentingan desanya.

Siswanto Sekretaris Komisi I DPRD Ngawi mengharapkan anggaran desa baik dari pos DD maupun ADD harus dikelola semaksimal mungkin yang bernilai guna bagi kemajuan desa dan kesejahteraan masyarakat. Jangan sampai keberadaan DD maupun ADD sebagai peluang baru dinikmati untuk kepentingan tertentu, baik untuk kepentingan kelompok maupun pribadi.

“Untuk bahan peringatan saja sesuai tupoksi kami sebagai dewan agar anggaran desa itu dikelola dengan baik. Terutama bagi para kepala desa (Kades-red) jangan sampai nyambi jadi pemborong proyek pembangunan dari kedua pos anggaran itu,” terang Siswanto Jum’at, (03/08).

Sebab, pengelolaan maupun bendahara keuangan atas proyek pembangunan desa harus diserahkan ke tim yang dibentuk misalkan TPK atau perangkat desa yang membidangi pembangunan seperti Kepala Urusan (Kaur) Pembangunan. Dalam penyerapanya harus melalui Kaur Keuangan dan baru diserahkan ke tim.

“Jangan sampai ada kepala desa yang mengelola langsung keuangan atas DD dan ADD. Misalkan, proses pembelian material atau lain-lainya langsung dari kepala desa dan tim maupun lainya jadi penonton,” tandas Siswanto.

Legislator dari PKS tersebut berbagi tips pengawasan terhadap anggaran desa dalam konteknya untuk mewaspadai adanya tindak manipulasi keuangan yang ‘mungkin’ dilakukan oleh para elit desa. Menurutnya, salah satu yang yang berpotensi melakukan manipulasi dana desa adalah mereka yang disebut dengan elit desa. Elit desa adalah orang orang yang mewarnai ruang ruang politik dan mampu mempengaruhi kebijakan didesa.

Mereka bisa saja berasal dari tokoh masyarakat seperti tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda atau pemuka masyarakat. Elit desa ini juga bisa berasal perangkat desa itu sendiri, mulai dari Kepala Desa, Ketua dan anggota Badan Musyawarah Desa, Kepala Dusun atau perangkat desa lain. Justru dibanding elit desa yang lain, peluang perangkat desa memanipulasi dana desa lebih besar. Sebab, mereka yang paling bertanggung jawab dalam pengelolaan dana desa.

Modus manipulasi anggaran desa sangat dimungkinkan beragam caranya, modus utama tentu dengan mengkorupsi dana yang ada. Misalnya saja dengan memotong atau mengurangi dana untuk satu kegiatan. Tertangkapnya aparat desa di berbagai daerah karena memotong dana desa beberapa waktu lalu seperti yang telah diungkap beberapa media adalah contoh kalau dana desa sangat rawan dikorupsi.

Modus kedua bisa saja timbul dengan memanipulasi jumlah pembayaran dalam satu kegiatan. Modus biasanya dilakukan dalam pelaporan jumlah tenaga kerja atau peserta sebuah pertemuan atau pelatihan. Manipulasinya dengan menyampaikan jumlah jumlah tenaga kerja fiktif. Yang ada hanya tanda tangan. Ketika dicek, ternyata tidak ada orangnya.

Modus yang bisa terjadi berikutnya adalah adalah membuat kegiatan hanya untuk kepentingan kelompok kelompok tertentu di desa, atau hanya untuk kepentingan elit elit tersebut. Modus ini memang lebih canggih dari dua modus di atas sebab dibuat melalui proses perencanaan yang ada.

Mulai dari penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Desa hingga pembuatan APB Desa, kegiatan itu sudah dirancang. Agar kegiatan itu mulus, dalam proses perencanaan, para elit desa sengaja mengaburkan prinsip partisipatif dan transparansi yang menjadi azas pengelolaan dana desa sebagaimana yang disebutkan dalam Undang-Undang Desa. (pr)


SHARE THIS

Author:

0 komentar: